Paus Fransiskus : Apakah aku setia pada Kristus?

Berikut adalah terjemahan homili Paus Fransiskus pada Misa Minggu Paskah ke – 7 yang sekaligus hari kanonisasi bagi Beato Antonio Primaldo dan kawan – kawan, Beata Lauda dari Santa Katharina dari Siena dan Beata María Guadalupe García Zavala:

Saudara-saudari terkasih,

Pada Minggu Paskah Ke-tujuh ini kita berkumpul bersama dalam sukacita untuk merayakan pesta kekudusan. Mari kita bersyukur kepada Allah yang telah membuat kemuliaan-Nya, kemuliaan Kasih, bersinar pada para Martir dari Otranto, pada Ibu Laura Montoya dan Ibu María Guadalupe García Zavala. Saya menyambut kalian yang telah datang untuk perayaan ini – dari Italia, Kolombia, Meksiko dan negara-negara lain – dan saya berterima kasih pada kalian! Mari kita lihat para kudus baru yang dinyatakan dalam terang firman Allah . Ini adalah firman yang telah mengundang kita untuk menjadi setia kepada Kristus, bahkan sampai menjadi martir; hal ini telah mengingatkan kita akan pentingnya dan indahnya membawa Kristus dan Injil-Nya kepada semua orang; dan hal ini telah berbicara kepada kita tentang kesaksian amal, yang tanpanya bahkan kemartiran dan misi tersebut kehilangan cita rasa Kristiani mereka.

1. Ketika Kisah Para Rasul menceritakan kita tentang Diakon Stefanus, Martir Pertama, tertulis bahwa ia adalah seorang pria “penuh dengan Roh Kudus” (6:5; 7:55). Apa artinya ini? Ini berarti bahwa ia dipenuhi dengan kasih Allah, yang seluruh dirinya, hidupnya, terinspirasi oleh Roh Kristus yang bangkit sehingga ia mengikuti Yesus dengan kesetiaan total, sampai menyerahkan dirinya.

Hari ini Gereja mengangkat untuk penghormatan kita sekelompok martir yang pada 1480 telah dipanggil untuk menanggung kesaksian tertinggi kepada Injil secara bersama – sama. Sekitar 800 orang, yang selamat dari pengepungan dan penyerbuan Otranto, telah dipenggal kepalanya di lingkungan kota itu. Mereka menolak untuk menyangkal iman mereka dan mati karena mengakui Kristus yang Bangkit. Dari mana mereka menemukan kekuatan tersebut untuk tetap setia? Dalam iman itu sendiri, yang memungkinkan kita untuk melihat melampaui batas penglihatan manusia, melampaui batas-batas kehidupan duniawi. Itu memberikan kita kesempatan untuk merenungkan “langit terbuka”, sebagaimana St Stefanus katakan, dan Kristus yang hidup di sebelah kanan Allah. Teman-teman terkasih, mari kita menjaga iman yang telah kita terima dan yang adalah harta sejati kita, mari kita memperbaharui kesetiaan kita kepada Tuhan, bahkan di tengah-tengah hambatan dan kesalahpahaman. Allah tidak akan membiarkan kita kekurangan kekuatan dan ketenangan. Sementara kita menghormati para martir dari Otranto, marilah kita meminta Allah untuk menguatkan semua orang Kristen yang masih menderita kekerasan sampai saat ini dan di banyak belahan dunia dan untuk memberi mereka keberanian untuk tetap setia dan untuk menanggapi kejahatan dengan kebaikan.

2. Kita boleh mengambil gagasan kedua dari kata-kata Yesus yang kita dengar dalam Injil: “Aku berdoa tidak hanya untuk mereka ini saja, tetapi juga bagi orang – orang yang percaya kepada-Ku melalui perkataan mereka, semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Kamu, agar mereka juga di dalam Kita “(Yoh 17:20). St Laura Montoya adalah instrumen evangelisasi, pertama – tama sebagai guru dan kemudian sebagai ibu spiritual dari masyarakat adat yang didalamnya ia menanamkan harapan, menyambut mereka dengan kasih yang ia pelajari dari Allah dan membawa mereka kepada Dia dengan pedagogi efektif yang memberikan penghormatan terhadap budaya mereka dan tidak bertentangan dengannya. Dalam karya penginjilannya Ibu Laura benar-benar membuat dirinya [menjadi] segala-galanya bagi semua orang, untuk meminjam kata-kata St Paulus (lih. 1 Kor 9:22). Hari ini juga, seperti garda depan Gereja, putri – putri spiritualnya hidup dan membawa Injil ke tempat-tempat terjauh dan paling membutuhkan.

Orang kudus pertama, yang lahir di negara indah Kolombia ini, mengajarkan kita untuk bermurah hati kepada Allah dan tidak untuk menghidupi iman dalam kesendirian – seolah-olah hal itu mungkin untuk menghidupi iman sendirian! – tapi untuk mengkomunikasikan ini dan untuk membuat sukacita Injil bersinar keluar dalam kata-kata kita dan dalam kesaksian hidup kita di manapun kita bertemu orang lain. Dimanapun kita mungkin berada, untuk memancarkan kehidupan Injil ini. Ia mengajarkan kita untuk melihat wajah Yesus yang tercermin pada orang lain dan untuk mengalahkan ketidakpedulian dan individualisme yang mengkorosi komunitas Kristen dan menggerogoti hati kita sendiri. Ia juga mengajarkan kita untuk menerima semua orang tanpa prasangka, tanpa diskriminasi dan tanpa keengganan, melainkan dengan cinta yang tulus, memberi mereka yang terbaik dari diri kita sendiri dan, terutama, berbagi dengan mereka harta paling berharga kita; hal ini bukan salah satu lembaga atau organisasi kita, tidak. Hal yang paling berharga yang kita miliki adalah Kristus dan Injil-Nya.

3. Terakhir, gagasan yang ketiga. Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa dengan kata-kata: ” Aku telah memberitahukan kepada mereka nama-Mu dan Aku akan memberitahukannya, agar kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”(Yoh 17:26). Peristiwa kesetiaan martir sampai mati dan pewartaan Injil kepada semua orang berakar, memiliki akar mereka, dalam kasih Allah, yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus (lih. Rom 5:5), dan dalam kesaksian yang harus kita tanggung dalam hidup kita untuk kasih ini.

St Guadalupe García Zavala sangat menyadari hal ini. Dengan menyangkal kehidupan yang nyaman – betapa besar mudarat yang diakibatkan oleh kehidupan yang mudah dan kesejahteraan; adopsi hati borjuis melumpuhkan kita – dengan melepaskan kehidupan yang mudah untuk mengikuti panggilan Yesus ia mengajarkan orang bagaimana mencintai kemiskinan, bagaimana merasakan kasih yang lebih besar bagi kaum miskin dan orang sakit. Ibu Lupita akan berlutut di lantai rumah sakit, di hadapan [seorang] yang sakit, dihadapan [seorang] yang ditinggalkan, dalam rangka untuk melayani mereka dengan kelembutan dan kasih sayang. Dan ini disebut [dengan] “sentuhan daging Kristus”. Orang miskin, orang yang ditelantarkan, orang sakit dan terpinggirkan adalah daging Kristus. Dan Ibu Lupita menyentuh daging Kristus dan mengajarkan kita perilaku ini: tidak untuk merasa malu, tidak untuk takut, tidak untuk berpikir “menyentuh daging Kristus” menjijikkan. Ibu Lupita menyadari apa arti “sentuhan daging Kristus” sebenarnya. Hari ini juga para putri spiritualnya mencoba untuk mencerminkan kasih Allah dalam karya amal, tak tanggung-tanggung dalam pengorbanan dan menghadapi setiap rintangan dengan kepatuhan dan dengan ketekunan apostolik (hypomonē), menanggungnya dengan keberanian.

Orang kudus Meksiko baru ini mengajak kita untuk mengasihi seperti Yesus mengasihi kita. Ini tidak berarti penarikan ke dalam diri kita, ke dalam masalah kita sendiri, kedalam ide-ide kita sendiri, ke dalam kepentingan kita sendiri, ke dalam dunia kecil yang sangat berbahaya bagi kita, melainkan untuk keluar dari diri kita sendiri dan peduli untuk mereka yang membutuhkan perhatian, pengertian dan bantuan, untuk membawa mereka kedekatan yang hangat akan kasih Allah melalui tindakan nyata dari kepekaan, kasih sayang yang tulus dan cinta.

Kesetiaan kepada Kristus dan Injil-Nya, untuk memberitakan mereka dengan kata-kata kita dan hidup kita, bersaksi tentang kasih Allah dengan cinta kita sendiri dan dengan amal kita semua: ini adalah contoh – contoh dan ajaran – ajaran yang bercahaya dari para orang kudus yang dikanonisasikan hari ini yang ditawarkan bagi kita tetapi juga mereka mempertanyakan kehidupan Kristen kita: bagaimana aku setia kepada Kristus? Mari kita ambil pertanyaan ini dengan kita, untuk berpikir tentang hal itu sepanjang hari: bagaimana aku setia kepada Kristus? Apakah aku bisa “membuat iman-ku dilihat dengan hormat, tetapi juga dengan keberanian? Apakah aku memperhatikan orang lain, apakah aku menyatari siapa yang membutuhkan, apakah aku melihat semua orang sebagai saudara dan saudari untuk dikasihi? Mari kita mohon kepada Tuhan, melalui perantaraan Santa Perawan Maria dan para kudus yang baru, untuk mengisi hidup kita dengan sukacita akan kasih-Nya. Semoga terjadi demikian.

(AR)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 12 Mei 2013

Diterjemahkan dari : http://www.vatican.va

http://www.katolisitas.org/paus-fransiskus-apakah-aku-setia-pada-kristus/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s